Pintu Rona
Manusia terus saja berpadu dengan rona masa yang selalu menyapa. Tiap isi kepala yang terlihat lalu lalang mungkin saja sedang menyimpan gulana. Gelap atau terang rona itu, memaksa kita untuk memilih "saya akan apa". Siap atau tidak, rona masa dengan ramahnya akan terus menyelami. Bersilaturahmi dengan rasa yang sudah menanti.
Kita yang memilih 'rasa yang mana' yang akan menyambut rona. Gundah, tenang, senang, atau merana. Jangan salahkan rona saat kita tiba-tiba lumpuh sampai tidak bisa kembali berjalan setelah ia menyapa, karna kita yang memilih rasa yang menyambut rona.

0 Comments:
Posting Komentar